Urap babak baru

hai. di babak yang baru aku kembali dengan hati yang masih milikmu. kisah-kisah mulai menipis untuk ku ceritakan. namun kesah semakin tebal untuk ku bagikan. saat ini obrolan rindu sudah terlalu kadaluwarsa. sudah bukan waktunya untuk membahas rindu, saat ini waktunya untuk memecah celengan rindu. menjalani hari kita seperti dulu, memimpikan mu dimalam syahdu adalah asalan ku enggan untuk menatap mentari pagi.

sakitnya aku mencintaimu, belum tentu kau obati dengan kembali rengkuh hatiku. apakah aku membuang waktuku sia-sia? tentu tidak. sebab kamu adalah prosesku berjalan menuju dewasa. prosesku untuk aku menemukan ia yang lebih darimu. terimakasih sudah melatihku, membuatku kuat. aku hanya lemah akan sapamu. kamu tak perlu tau betapa aku mencintaimu, yang perlu kamu tau banyak goreosan luka yang lahir dari kata kata.

aku membenci diriku yang memaksamu untuk kembali mencintaimu. aku membenci diriku yang masih dengan keras kepala mencintaimu. aku,kini yang telah lupa pada diriku sendiri sebelum aku bertemu denganmu. aku lupa bahagia yang seharusnya bisa ku ciptakan sendiri tanpa kamu.

menangis pernah membuatku begitu lega. namun tetes air mata itu membendung wajahmu diatas kertasku. untuk aku yang patah hati setiap hari, kamu harus bahagia setelah ini. aku kaku untuk saat menari, apa karena itu aku sulit untuk bahagia?

afsunmu mengubah artian harfiahnya menjadi nafsuku. sebab itu aku selalu ingin memenangkan dirimu. namun menangis lagi yang aku temui. meratapi bodohnya diri ini yang ku lakukan. merutuki wajahku yang tak ayu berkali kali ku lakukan, seakan semua bisa ku beli dengan pesona.

karenamu aku menjadi banyak berubah. menjadikan aku merangkum dalam kesedihan diriku sendiri. aku menjadi sulit membaca diriku. aku menjadi pengabdimu seperempat hidupku untuk memujamu. kepada siapa aku meminta kembalikan diriku yang dulu.

ini tentang aku yang berharap kau cintai hingga perih pun tak ku rasakan akibat aku memandangmu terlalu lama. mendupgapa aku dengan berani menyerahkan hidupku pada lelaki yang tak pernah ku kenali sebelumnya. ah aku terlalu larut dalam permainan semesta.

aku,yang pandai merubah luka menjadi kata, hingga berusaha baik baik saja. aku, si bodoh yang masih mencintaimu dengan seluruh semestaku. untuk kamu, lelaki yang sedang dalam pelukan orang lain.

Komentar